les_miserables_movie_poster___no_blur_by_jswoodhams-d5htjsq

Les Miserables : When music comes to life

les_miserables_movie_poster___no_blur_by_jswoodhams-d5htjsq

20 tahun setelah Revolusi Prancis, seorang raja kembali bertahta. Tahanan nomor 24601 bernama Jean Valjean baru saja dibebaskan dari masa hukuman selama 19 tahun. Namun, statusnya sebagai mantan narapidana dan masa percobaan seumur hidup yang ditanggungnya menghalangi Valjean untuk kembali menjalani hidup normal seperti yang ia harapkan. Di saat Valjean sudah hampir menyerah dan memutuskan untuk menjadi penjahat, kebaikan seorang bishop menyentuh hati Valjean, mendorongnya untuk melarikan diri dari masa percobaan yang mengikatnya untuk memulai hidup baru sebagai seseorang yang jujur.

8 tahun setelahnya, Valjean yang telah menjalani hidup barunya sebagai walikota Montreuil-sur-Mer bertemu kembali dengan Javert, penjaganya saat di penjara dulu yang telah menjadi inspektur dan bersumpah untuk menangkap kembali Jean Valjean.

lesmis3

I’m a sucker for movie’s soundtracks, really. Salah satu bagian yang paling saya suka dari film adalah lagu-lagunya, dan saya bakal seneng banget kalau begitu keluar dari teater ada lagu atau melodi yang nempel di kepala dan bikin saya penasaran pengen cepet nyari mp3nya. And that’s exactly why I fell in love with Les Miserables.

Sebagai film musikal, Les Miserables tentu dipenuhi oleh berbagai lagu. Bahkan, hampir semua dialog dalam lagu ini muncul dalam bentuk nyanyian. Awalnya emang kerasa aneh, ngedenger bagaimana semua orang menyanyikan percakapan mereka. Sampai akhir pun, saya masih merasa bahwa ada beberapa dialog yang akan terdengar lebih bagus jika tidak dipaksa untuk dinyanyikan. Tapi di sisi lain, gak mungkin saya gak jatuh hati sama bagaimana setiap lagu yang menjadi soundtrack dari film ini mengkomunikasikan sebuah pesan dengan sangat indahnya. From the “look down, look down” anthem, the daunting “at the end of the day”, the heart wrenching “I dreamed a dream”, freaking funny “master of the house”, awakening “red and black”, clashing “one day more”, and the epic “when tomorrow comes, tomorrow comes” at the epilogue. Serius, cinta banget sama lagu-lagunya. Apalagi di lagu yang clashing kayak “One Day More”, di mana lewat satu lagu itu semua orang menyampaikan pandangan mereka masing-masing secara terpisah tapi somehow nyambung. Suka banget pokoknya sama scene di mana ada beberapa lagu yang dinyanyikan secara bersamaan dan saling bersambungan, menggambarkan bahwa dalam setiap peristiwa, sekecil apapun, pasti ada berbagai pandangan dan perasaan yang saling bertabrakan.

Kumpulan lagu yang sukses menghantui saya ini juga didukung oleh cerita yang bagus. Take place pada masa setelah Revolusi Prancis, Les Miserables menggambarkan kehidupan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat. Semuanya memiliki nasib dan cerita yang berbeda, namun hidup mereka saling bertaut dan membentuk sebuah kisah besar yang mempesona. Namun, walaupun memiliki banyak fokus, Les Miserables tetap berhasil membagi porsi cerita dengan adil. Setiap orang berhasil menyampaikan kisah mereka, hingga tidak terkesan sebagai sekedar cerita sampingan atau penghias dari konflik berkepanjangan antara Valjean dan Javert. Although admittedly, tetap ada bagian klise dari cinta segi tiga antara Cosette-Marius-Eponine yang sudah saya duga akan muncul. Dan saya juga merasa harusnya ada background story yang lebih kuat untuk Enjolras, mengingat dia memegang peranan sentral dalam June Rebellion, event yang menjadi pusat dari bagian puncak Les Miserables.

Tapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi jika para aktor dan aktris tidak berperan dengan baik. The star-studded casts prove their worth, membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa menampilkan akting yang ‘real’, namun juga menghanyutkan dengan nyanyian sepenuh hati mereka. Fakta bahwa semua lagu dinyanyikan secara live dengan bantuan live piano sebagai pengiring melalui ear piece, dan bukan lip-sync, sepertinya berperan penting, karena para aktor dan aktris jadi lebih bisa menyampaikan perasaan mereka lewat nyanyian tanpa harus memikirkan presisi lip-sync mereka.

Hugh Jackman, yang selalu otak saya asosiasikan dengan Wolverine, berhasil membuat saya melupakan perannya sebagai mutan itu. Russell Crowe, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, sama Sacha Baron Cohen sih gak perlu ditanya. Di sisi lain, saya entah kenapa merasa bahwa presence Amanda Seyfried dan Eddie Redmayne kurang kuat sebagai Cosette dan Marius. Somehow, saya gak suka sama Cosette versi dewasa. The little Cosette (played by Isabelle Allen) jauh lebih melekat di otak saya. Dan well, saya jadi bertanya-tanya gimana misalnya kalau Emma Watson lah yang memerankan Cosette. Selain itu, saya juga gak tersentuh ataupun ter-aww oleh keunyuan pasangan yang sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama and supposedly, started each other life’s itu. Saya malah jauh lebih terenyuh sama Eponine’s one sided love. Oh well, I’m a sucker for tragedy and sad ending sih.

Still, dari semua pemain di film ini, yang akan selalu saya inget adalah the scene stealers: Anne Hathaway as Fantine, Samantha Barks as Eponine, Daniel Huttlestone as cute little Gavroche, dan Sacha Baron Cohen serta Helena Bonham Cartes sebagai the forever-awesome Thenardiers. (Dan sepanjang film, Enjolras rasanya familiaaar banget. Belakangan baru saya tau dia itu Aaron Tveit, yang selama ini saya kenal sebagai Trip van der Bilt of Gossip Girl. Heol)

At the end, kalau pakai term Harry Potter nih, Les Miserables fix dapet nilai E. Exceed expectations. Kenapa bukan O? Karena sebelum nonton film ini saya sudah punya ekspektasi cukup tinggi. Jadi, biarpun sengaja gak nyari tau soal ceritanya (as to savor the surprise), saya tetep berekspektasi bahwa film ini akan bener-bener bakal mind blowing. Dan juga menghanyutkan, mengingat saya memang orang yang cukup mudah terpengaruh oleh lagu dan musik yang saya dengarkan. And Les Miserables exceeds my expectations, tearing me up about three times, leaving me wordless at the end of the movie, and haunt me with all the beautiful songs. Sampai sekarang, saya masih ndengerin soundtrack-nya on repeat (dan masih terhantui oleh suara cracking bones itu). Les Miserables is so freaking good my heart aches.

lesmis5

Rate: 4,25 / 5

(The soundtrack though, is 5 out 5)

lesmis7

Director: Tom Hooper. Writer: William Nicholson (screenplay), Herbert Kretzmer (lyrics). Released on: 18 January 2013 (Indonesia). Casts: Hugh Jackman, Russell Crowe, Helena Bonham Carter, Anne Hathaway, Sacha Baron Cohen, Amanda Seyfried, Eddie Reymane, Aaron Tveit, Samantha Barks, Daniel Huttlesone.

4 thoughts on “Les Miserables : When music comes to life

    • Hahaha, iyasih memang tergantung selera juga kalau dipikir-pikir. Kalau saya sih karena emang terkesan sama nyanyiannya ya, jadi suka, hehe.
      Iya, Anne memang mindblowing dan scene stealer banget. Saya jauh lebih inget sama dia biarpun dia cuma muncul sebentar dan di awal daripada sama Amanda biarpun banyak dan di akhir

        • yup, semoga dia menang semua deh.
          Kalu saya demen banget sama Look down yang di awal, sama bagian akhir dari Epilogue-nya. Memorable banget anthemnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s