sherlock_review_mainimage

Sherlock TV Series : Move over, Robert Downey Jr. (Season 1)

sherlock_review_mainimage

Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) adalah seorang consulting detective – the only one in the world. He invents the job – yang hidup di London. John Watson (Martin Freeman) adalah seorang dokter-prajurit, veteran perang Afghanistan yang dikirim kembali ke London setelah terluka dalam perang.

Then fate just so happen to intervene, mempertemukan dua orang yang kesepian, terisolasi, dan craving for some companion (in their own way) ini.

And so the doctor meets the sociopath.

Oke, jujur sejujurnya, saya memang sudah lama (banget) menelantarkan blog ini. Oh, alasan ada banyak. Banyak banget malah. Tapi gak guna juga ditulis di sini, karena itu gunanya blog sebelah, bukan? Jadi, sebagai salah satu resolusi 2013, saya akan berusaha untuk kembali lebih aktif nonton dan ngereview film ataupun TV Series. Nonton film, terutama. Ngereview, terutama banget.

As the comeback post, I decided to review a tv series yang sejujurnya, baru saya tonton – maraton dua season dalam satu hari – akhir tahun kemarin. Sherlock.

Siapa sih yang gak kenal sama Sherlock Holmes? Tokoh fiksi karangan Sir Arthur Conan Doyle ini sudah terkenal dan banyak diadaptasi. Mungkin, kebanyakan dari kita bakal lebih akrab sama Sherlock Holmes versi film (played by Robert Downey Jr and the-somehow-kurang-ganteng-di-film-ini Jude Law. Review disini, kalau berminat *usaha*). Tapi percaya deh, enam episode Sherlock versi BBC ini worth banget ditonton. Biarpun admittedly, nonton dua season ini kayak nonton 6 film. But that’s the fun in it. Ah well, to the review, then.
sherlock_review_ep1

Season 1 Episode 1: A Study In Pink

Who cares about decent? The game, Mrs. Hudson, is on!

In which Sherlock scout John as his flatmate at their first meeting. And John was blown away with every deduction that Sherlock made. And Sherlock was pleased with John’s reaction (“Amazing” dan bukan “Piss off” adalah perubahan yang bagus, bukan?). Then together they unraveled the mystery of a serial suicides.

Yes, the game is most definitely on with this one episode. Hanya dengan satu episode ini, saya resmi menjadi fans dari Sherlock the Series. Bisa bilang apa? Dari segi cerita, episode ini bener-bener seru. Fast paced dengan kombinasi yang indah antara pengenalan-slash-getting-to-know para tokoh, dan sebuah misteri pembunuhan yang gak masuk di akal. Beneran bikin seratus persen penasaran. And the dialogue, oh the dialogue. The humor. The banters. The…everything! Sumpah, suka banget sama semua dialog di sini. Sherlock keliatan pinter dan cocky, bukan sok-pinter dan sok-cocky. Dan interaksi antara semua orang di sini, jokes-jokes kecil yang bikin ketawa tanpa harus dipaksain lucu. Love it.

Udah gitu, pemilihan castnya flawless. Well, mungkin sebagian karena saya gak inget pernah liat mereka main di film lain sih ya. Tapi saya pribadi suka banget sama penggambaran tokoh-tokohnya di sini. Benedict Cumberbatch as Sherlock, Martin Freeman as John, Mark Gatiss as Mycroft, Rupert Graves as Lestrade, Una Stubbs as the “not your housekeeper” Mrs. Hudson, Louise Brealey as the starstruck Molly Hooper, heck bahkan Vinette Robinson as Doonovan and Jonathan Aris as Anderson (sekedar suka sama penggambarannya. Benci setengah mati sama kedua tokohnya. Piss off!). Episode ini juga berhasil jadi pengenalan yang bagus akan setiap karakter, ngebangun dasar yang bikin kita makin tertarik buat nonton episode selanjutnya. Semua tokoh utama dikenalin di sini. Sherlock, John, Mycroft, Lestrade, Mrs. Hudson, dan bahkan, the hint about the existence of Sherlock Holmes’ number 1 fan: Moriarty.

Udah gitu, sinematografi-nya juga indah… saya suka banget sama cara mereka nunjukin the loneliness that John feels di awal episode. Sherlock’s texts’ pop up juga lucu. Dan penggambaran ancaman buat John, juga waktu mereka nunjukin peta London yang ada di otak Sherlock. Pergantian shot-nya juga bagus. I really, really, love them. Visual sama cerita dan dialognya saling ngisi, strengthening each other. Brilliant.

So yes, I was pleased and practically hooked by the first episode.

Rate: 4,75 / 5

sherlock_review_ep2

Season 1 Episode 2: The Blind Banker

I am Sherlock Holmes, and I always work alone.

A teapot-obsessed Chinese girl works in a museum. John butuh uang dan cari kerjaan, and (finally!) meets a girl. Dan semua bermula ketika temen kuliah Sherlock minta tolong untuk menemukan the hole in their security system.

Quote yang diucapkan oleh John itu cukup menggambarkan episode ini, di mana kebiasaan Sherlock untuk selalu bekerja sendirian terlihat jelas. Di satu sisi memang, ini sangat menyebalkan dan bikin John frustasi. Tapi dari sudut pandang lain, it’s Sherlock’s way of protecting John from the danger (atau begitulah yang saya tangkap, melihat bagaimana Sherlock beberapa kali mempertaruhkan nyawanya dan merahasiakan itu semua dari John). Dan lucunya, di sini juga diperlihatkan bagaimana cara Sherlock itu salah. Seperti ketika John menunjukkan tempat yang seharusnya mereka tuju, or the epic “I took a photograph”. In your face, dear Sherlock. In your face.

Well, kalau boleh jujur, episode ini bisa dibilang merupakan sebuah let down setelah episode satu yang…brilian itu. Oh, don’t get me wrong. Episode ini bagus. The story started out as scattered fragments, dan semuanya baru mulai make sense di pertengahan. Iya, kita tau kalau itu semua berhubungan, pasti berhubungan, somehow. Tapi kita harus ngikutin perjalanan Sherlock buat tau apa hubungannya. And isn’t it funny, how we tend to only looks at the small picture, while there’s actually a whole lot more behind it?

Salah satu kekecewaan saya sama episode ini adalah, well, I don’t like the villain. Weird as it sounds, saya adalah tipe orang yang condong untuk menyukai tokoh antagonis, dan tokoh antagonisnya lah yang jadi ukuran saya terhadap tipe tipe film kayak gini. Dan frankly, saya gak suka penjahat di episode ini. Which is why I end up kinda disliking this episode. Karena tokoh villain di episode ini tidak terlihat seperti lawan yang pantas bagi seorang Sherlock.

Tapi tetap saja, episode ini punya keunggulan. Dimmock. Detective Inspector Dimmock. Interaksi antara dia sama Sherlock…kekesalan Sherlock saat dia harus berhadapan dengan Dimmock dan bukan Lestrade… the amusement sort of made up for the lack of evilness in this episode. That, and the beautiful floating codes and words. Dan selalu suka bagaimana pengambilan shot-nya seolah berusaha menunjukkan apa yang Sherlock “lihat”.

All in all, saya merasa episode ini adalah episode yang paling lemah di season 1 – dan sejujurnya, dari enam episode yang ada – tapi kalau dilihat sebagai “individu”, episode ini lumayan bagus, kok.

Rate: 3,75 / 5

sherlock_review_ep3_1

Season 1 Episode 3: The Great Game

Because I’m bored. We were made for each other, Sherlock

In which Sherlock was bored, and John started blogging. And two insane sociopath decided to amuse each other by playing a game…with people’s lives as their bet.

Yap, Sherlock akhirnya menemukan tandingannya, tepat ketika ia merasa bosan karena ketiadaan kasus yang menarik. Hence the great game, di mana Moriarty (gak spoiler kan? I mean, semua orang juga pasti udah nebak kalau ini kerjaan Moriarty, dan emang sejak awal nunggu kemunculan dia…kan?) menguji kecerdasan Sherlock dengan memberikan sebuah petunjuk agar Sherlock dapat memecahkan sebuah kasus, dengan time limit. Dan jika Sherlock gagal…well, he’s going to be so naughty.

Bloody hell, I love this episode. Plotnya simpel, bukan? A puzzle. A game. Sebuah permainan, satu lawan satu, adu kepintaran. Tapi ini, ini bener-bener menarik. Ngeliat gimana Sherlock berusaha memecahkan setiap puzzle yang diberikan ke dia seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru. Bagaimana tiap puzzle, tiap kejahatan, dieksekusi dengan sangat rapih. Dan bagaimana kita mencari, menanti-nanti, mengharapkan kemunculan the evil mastermind behind everything: Moriarty.

Berlawanan dengan episode sebelumnya, di mana saya merasa dikecewakan oleh tokoh antagonis di episode tersebut, di episode ini saya dibuat jatuh cinta sama the villain, Moriarty. Oh he was simply brilliant and adorable and charming dan kalau dilanjutin, bisa panjang dan bakal spoiler. Intinya, saya suka, banget, sama episode ini. The immoral Sherlock adds a nice touch, bikin kita lihat bagaimana…wicked Sherlock sebenarnya, bagaimana dia berpikir dengan cara yang berbeda dengan yang kita punya, dan bagaimana sebenarnya, Sherlock rela mempertaruhkan nyawa orang selama dia bisa menghindari kebosanan.

The daunting countdown juga merupakan sentuhan yang bagus di bagian sinematografinya, dan ditambah dengan bayangan orang-orang yang dijadikan sandra, membuat rasa terburu-burunya semakin nyata. Not to mention, episode ini dibuka dengan grammar nazi! Sherlock, ada John yang berusaha berbohong dengan sangat imutnya, dan hell, Sherlock ganteng banget di episode ini, entah kenapa. And not to forget, the chit chat that Sherlock had with Moriarty. It’s so amusing I can’t even!

Definitely a nice way to end the first season.

Rate: 4,75 / 5

Season 1 Overview

All in all, Sherlock season 1 menurut saya gak mengecewakan. Ceritanya dibangun dengan bagus dan saling berkesinambungan, biarpun tetap bisa berdiri sendiri-sendiri. Nonton Sherlock satu season sama kayak nonton 3 film, in a good way. Ini merupakan penggambaran yang fresh dari Sherlock Holmes, di mana di series ini, hampir semua tokohnya digambarkan relatif muda dan terlihat muda. Ditambah lagi dengan pengaplikasiannya di abad 21 ini, bikin ceritanya makin mind-blowing.

Semua castnya juga bagus, penggambaran tokohnya juga nyata, dan ini adalah pertama kalinya saya suka sama semua tokoh utama dari sebuah cerita: Sherlock, John, Mycroft, Moriarty. I love all of them. Suka, sayang, cinta, worship setengah mati. The sociopath and selfish Sherlock, the normal and adorable John, the annoying yet somehow intriguing Mycroft, and the ever-so-freakin-brilliant Moriarty. Semuanya saya suka. Juga sama cast-cast pembantunya. Sally Donovan itu scene stealer, tbh. Dia cuma muncul dikit, tapi saya gak bisa menghilangkan perasaan pengen nendang karena liat ekspresinya dia yang sangat annoying itu.

And I found a delightful surprise ketika saya menemukan bahwa Mark Gatiss a.k.a Mycroft Holmes ternyata merupakan penulis series ini. Sangat cocok dengan perannya sebagai Mycroft yang mengontrol semuanya di balik layar. Lovely :”)

Despite the letdown di tengah-tengah, Sherlock toh berhasil menyajikan satu season yang sangat worth ditonton, dan membuat saya gak sabar untuk segera menonton season dua-nya.

Overall rate: 4,25 / 5

Director: Paul McGuigan. Writer: Mark Gatiss, Steven Moffat. Airing time: 25 July 2010 – 8 August 2010. Casts: Benedict Cumberbatch, Martin Freeman, Mark Gatiss, Una Stubbs, Andrew Scott, Louise Brealey, Rupert Graves.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s