sang_pencerah (1)

Sang Pencerah : Banyak orang di Kauman yang jelas jelas musyrik. Mengkhianati agama dengan merobohkan langgar saya. Kenapa saya yang dituduh kafir?

Film biopik jarang banget dibikin di Indonesia. Terakhir yang aku tau itu Gie (2005) bikinannya Riri Riza. Terus kalo ga salah ada Marsinah (2001) yang aku belom nonton. Taun ini juga ada Obama Anak Menteng tapi errr ga yakin itu biopik kalo kata review yang aku baca sih ya soalnya itu film kayaknya ga tayang deh di Jogja ya kalopun tayang juga aku ga minat nonton sih eh sori malah curcol. Nah, kali ini Hanung Bramantyo menghadirkan sebuah biopik mengenai tokoh yang tidak asing lagi di telinga kita, yaitu K.H. Ahmad Dahlan melalui Sang Pencerah

Di Jawa tahun 1800an, agama Islam mulai bercampur dengan takhayul takhayul yang justru memberatkan para pemeluknya. Di tengah tengah keadaan itu, lahirlah keturunan langsung Maulana Malik Ibrahim, yang diberi nama Muhammad Darwis. Darwis muda (Ikhsan Tarore) kerap menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap aturan aturan yang memberatkan bagi pemeluk agama Islam, yang menurutnya tidak bersumber pada Al Quran dan Sunah Rasul. Ini dia tunjukkan dengan mencuri sesajen lalu membagikannya pada orang miskin, serta menolak ikut padusan sebelum puasa

Pada usia 15 tahun, Darwis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji serta memperdalam ilmu agamanya. Setelah 5 tahun, Darwis kembali ke Indonesia dan mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Dia lalu menikah dengan sepupunya, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca). Ahmad Dahlan lalu diangkat menjadi Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta menggantikan ayahnya, Kyai Abu Bakar (Ikranegara)

Pemikiran Ahmad Dahlan yang terbuka dan modern mengundang ketidaksukaan dari kyai kyai lain. Permasalahan semakin meruncing saat Ahmad Dahlan menyadari bahwa kiblat masjid – masjid di Jogja, termasuk Masjid Besar Kauman menghadap ke arah yang salah. Pernyataan Ahmad Dahlan ini memancing kemarahan para kyai, termasuk penghulu Masjid Agung Kauman, Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), juga kepala jemaat Masjid Besar, Kyai Lurah Noor (Agus Kuncoro) yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri. Bahkan kakak kakak Ahmad Dahlan sendiri menentangnya

Tanpa butuh waktu lama, ajaran Ahmad Dahlan yang berbeda mulai dicap kafir. Puncaknya, Langgar Kidoel Ahmad Dahlan dirubuhkan karena dianggap menentang Masjid Besar.

Hanung Bramantyo bisa dibilang berhasil mencerminkan kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan sekelilingnya pada masa itu. Berkat riset yang cukup bagus, walaupun terkendala kurangnya sumber mengenai Ahmad Dahlan di usia muda, Sang Pencerah berhasil terlihat benar benar hidup, dan bercerita dengan baik. Walaupun mengangkat tema yang cukup islami, namun dalam bertutur Sang Pencerah dapat dicerna dan dinikmati oleh semua golongan, bahkan yang non-muslim sekalipun

Menonton Sang Pencerah seperti membaca buku sejarah yang bagus. Ceritanya dituturkan dengan apik dan menarik, serta mencakup semua hal penting yang harus disajikan. Sayangnya, hal ini menyebabkan Sang Pencerah menjadi terkesan datar. Sang Pencerah menjadi seperti sebuah cerita dengan klimaks yang terlalu cepat, yaitu saat Langgar Kidul dirobohkan, satu satunya adegan yang bagi saya pantas menjadi titik puncak. Atau, jika Hanung bermaksud menjadikan salah satu adegan setelah perobohan Langgar Kidul sebagai klimaks, sebuah cerita dengan klimaks yang gagal. Tidak membuat Sang Pencerah membosankan, memang. Tetapi tetap saja ini menjadi nilai minus. Padahal sebenarnya Sang Pencerah sudah memiliki cerita yang bagus, dan saya juga sangat menyukainya

Jajaran pemain yang sangat menjanjikan dalam Sang Pencerah tampil tidak mengecewakan. Lukman Sardi yang entah kenapa  kayaknya muncul di mana mana berhasil mendalami karakter K.H. Ahmad Dahlan dengan baik. Para aktor senior lain seperti Slamet Rahardjo. Agus Kuncoro, dan Ikranegara juga berhasil berperan dengan baik. Bahkan Sujiwo Tejo, Sitok Srengege, dan Pangky Suwito yang tidak banyak muncul tetap berhasil mencuri perhatian. Begitu juga para pemain muda seperti Dennis Adhiswara, Giring Ganesha, Ricky Perdana, Joshua Suherman, Mario Irwinsyah, serta Abdurrahman Arif mampu bermain dengan baik, dan tidak kalah dibandingkan dengan senior mereka. Thumbs up buat Giring yang berhasil lepas dari image dari “Nidji”nya dan menyatu dengan karakter Sudja. Bahkan butuh beberapa lama bagi saya untuk menyadari keberadaan Giring. Sayangnya, Zaskia Adya Mecca tampak kurang niat memainkan peran sebagai Siti Walidah. Yang dia lakukan hanya tersenyum dan menangis. Zaskia berhasil menurunkan peran penting Siti Walidah menjadi hanya sebagai peran pendukung. Sayang banget -,-

Satu lagi hal yang agak mengganggu adalah penggunaan bahasa jawanya. Wagu banget ya kalo bahasa jawa dicampur sama bahasa indonesia. Apalagi dalam sebuah acara resmi kayak pertemuan para kyai gitu. Mana kebanyakan bahasa jawa terlalu baku. Dan untuk sebuah film yang bersetting di Jogja pada tahun 1800 – 1900an, penggunaan bahasa jawa yang sangat minim itu terasa aneh. Beneran deh

Tapi gimanapun juga, Sang Pencerah tetap film yang bagus dan sangat worth ditonton. Toh kekurangan kekurangan yang saya sebutkan tadi nggak segitu mengganggunya sampai bikin males. Go watch it people. Dukung perfilman Indonesia. Jarang jarang lo ada film bagus kayak gini😀

Btw aku paling suka tiap kakak kakaknya ngomongin Ahmad Dahlan. Percakapan mereka lucu e. Pasti bikin ngakak :B

Ahmad Dahlan : Jadi sesungguhnya yang dibutuhkan dalam berdoa hanya sabar dan ikhlas. Bukan imam, khatib, apalagi sesajen

Siti Walidah : Saya tidak tahu siapa yang benar. Saya hanya perempuan. Kewajiban saya mengikuti suami saya. Itu yang benar menurut saya

Rakyat : Kiai, kalau kiai tidak menutup langgar ini, kiai penghulu yang akan membongkar dengan paksa
Ahmad Dahlan : Berarti selama ini saya berada di lingkungan yang salah

Siti Walidah : Hidup berjalan seperti yang kita pikirkan kangmas, bukan sebaliknya

Ahmad Dahlan : Kita boleh punya prinsip, asal tidak jadi fanatik. Karena fanatik itu ciri orang bodoh

Kyai Penghulu Cholil Kamaludiningrat : Kadang manusia lebih memilih untuk melindungi kewibawaannya, daripada bertanya, untuk apa sebenarnya kewibawaan yang dia punya bagi dirinya

Rate : 4,5 / 5

Director : Hanung Bramantyo

Writer : Hanung Bramantyo

Released on : 8 September 2010

Casts : Lukman Sardi, Yati Surachman, Slamet Rahardjo, Ikranegara, Agus Kuncoro, Sujiwo Tejo, Zaskia Adya Mecca, Giring Ganesha, Dennis Adhiswara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s